Seperti kita ketahui bahwa cikal bakal keberadaan orang Mandar
berasal dari seorang yang bernama Pangkopadang
yang lahir di Hulu Sungai Saddang, lalu darinyalah menitis pewaris yang
menjadi Tomakaka (orang yang
berkemampuan) untuk selanjutnya menjadi Mara’dia
dari Amara’diangan (golongan
bangsawan) yang disapa sebutan penghormatan Daeng atau yang Dipedzaeng
(yang mulia) dan Taupia atau Ataupiangan (manusia pilihan) yang
disapa dengan sebutan penghormatan Puang
atau Dipepuang di seluruh
kawasan Mandar yang salah satunya terdapat di Kerajaan Balanipa pada sekitar
awal abad ke XIV, yaitu: Imanyambungi
yang kemudian bergelar Todilaling yang
menjadi cikal bakal bangsawan di Mandar khususnya di kerajaan Balanipa, dan
dari keturunannya-lah yang menjadi Mara’dia dan Arayang silih berganti hingga
sampai pada masa Pemerintahan Arayang Balanipa ke 37 bernama Calla Batu Putah.
"Belajarlah Mengalah Sampai Tak Seorangpun Mengalahkanmu. Belajarlah Merendah Sampai Tak Seorangpun Merendahkanmu. Belajarlah Sabar Sampai Allah Ta'alaa Mengangkat Derajatmu."
Selasa, 03 Desember 2013
Rabu, 27 November 2013
Cucu Rasulullah SAW Nasihati Orang Tua
Sayidina Hasan dan Sayidina Husain suatu ketika melihat seseorang sedang
berwudhu. Sayangnya, cara wudhu orang tersebut tidak sempurna, tidak
sesuai dengan tuntunan agama.
Kedua cucu baginda Nabi SAW yang
tengah beranjak remaja itu pun berpikir tentang cara mengoreksinya
secara bijak. Mereka tak ingin menyinggung dan berharap pesan nasehatnya
dapat diterima dengan lapang dada.
Salah seorang dari keduanya
akhirnya mengatakan kepada orang tersebut, ”Wahai paman, saya dan
saudara saya beda pendapat mengenai siapa di antara kami yang paling
benar dan bagus cara wudhunya. Kami minta tolong paman untuk menilai
kami, siapa yang terbaik wudhunya!”
Orang itu setuju. Sayyidina Hasan dan
Husain lantas berwudhu sementara ia memperhatikan satu persatu dengan
seksama, disertai rasa kagum akan cara wudhu dua anak dimaksud. Saat
itu, ia beruntung karena mendapatkan pelajaran praktik dari kedua anak
itu. Pelan-pelan kesadarannya tumbuh bahwa ia telah melakukan kesalahan.
Setelah
Sayyidina Hasan dan Husain selesai “lomba berwudhu” tiba saatnya untuk menentukan
pemenangnya. ”Wudhu kalian berdua sangat istimewa,” kata orang itu
sembari tersenyum seolah mengucapkan terima kasih.
Tidak ada pemenangnya. Memang tujuannya bukan untuk mencari pemenang.
Apapun
situasinya, nasihat-menasihati merupakan prinsip esensial dalam Agama.
Sayangnya prinsip ini semakin luntur, karena banyak orang yang “berat”
menasihati orang lain dan banyak pula orang yang merasa “berat” untuk
menerima nasihat.
Tampaknya, dibutuhkan kiat yang tepat untuk
menyampaikan nasihat, dan tidak harus selalu diungkapkan secara
tersurat, seperti yang dilakukan dua pemuda ahli surga tadi. Formatnya
barangkali tidak menasihati walaupun secara tersirat kandungannya adalah
nasihat.
Saya teringat saat belajar di salah satu madrasah
ibtidaiyah (Nuhiyah) di Pambusuang. Saat itu saya belum mengerti kenapa setiap akan
pulang sekolah guru-guru kami meminta semua siswa menutup pelajaran
dengan membaca surat “Al-Ashr”. Rupanya para sahabat Rasul SAW, tabiin
dan generasi sesudahnya mempunyai kebiasaan mengakhiri majelis atau
pertemuan mereka dengan membaca surat tersebut. Surat al-Ashr yang
berisikan deklarasi kerugian manusia, kecuali mereka yang beriman,
melakukan amal saleh, saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan
saling nasihat-menasihati dalam kesabaran.
Rabu, 06 November 2013
JAKET MAJELIS RASULULLAH SAW
Lambang Majelis Rasulullah (MR) di
bagian dada kanan atas (jantung) merupakan simbol bahwa Majelis Rasulullah
SAW senantiasa dekat dengan hati pemakai jaket ini. Sedangkan lambang besar MR di
bagian punggung (belakang) merupakan simbol kebanggaan bahwa pemakai jaket ini
merupakan bagian dari kelompok luhur pembela da’wah Sayyidina Muhammad SAW.
Warna dasar jaket
hitam merupakan simbol kewibawaan jamaah MR, sedangkan warna ke-emasan yang
merupakan simbol dari kemakmuran dan keberlimpahan umat muslimin yang
dijanjikan oleh Allah SWT dan Sayyidina Muhammad SAW.
Dengan desain
strip scothlite yang simple, jaket ini cocok sekali sebagai jaket pengendara
motor karena mampu memantulkan cahaya (tampak menyala) sehingga dapat
meningkatkan keamanan saat Anda berkendara di malam hari.
Minggu, 03 November 2013
CINTA KEPADA RASULULLAH SAW. "TAPI"
NGGAK MAU KENAL PRIBADINYA
Kata pepatah, tak
kenal maka tak sayang. Bener juga sih kalo mau dipikir-pikir. Gimana nggak, orang kalo kita di kendaraan umum
kayak di bis or lagi di kereta api,
kita cengok saja sendirian kalo pas
nggak ngajak teman jalan bareng. Banyak orang sih di sekitar kita. Tapi yang
terjadi kan masing-masing sibuk dengan urusannya. Boro-boro sayang ama kita, orang kenal saja nggak. Kadang sekadar nyapa pun nggak kita lakukan, kecuali
kalo ada yang duluan nyapa kita sekadar basa-basi Bener apa bener?
Padahal nih ya, siapa tahu di antara puluhan orang yang lagi
ada di sebuah gerbong kereta api, mungkin saja ada orang yang sebenarnya
istimewa. Cuma, karena kita nggak kenal, ya adem-adem saja. Beda banget kan
kalo misalnya yang ada di gerbong kereta tuh orang terkenal. Minamal tahu kalo
doi tuh namanya si anu dan memiliki kemampuan tertentu yang kita kenal. Pernah
lho, ada kejadian waktu seseorang di kapal ferry, ternyata di ruangan yang sama
dengan salah satu artis top ibu kota. Eh, karuan saja banyak penumpang yang
akhirnya ngerubutin pengen nanya, nyapa, dan bahkan foto bareng segala dengan
doi. Hehehe… itu resiko jadi
terkenal. Bahkan bisa saja orang kemudian penasaran pengen tahu pribadinya. Iya
kan?
Rasulullah SAW terkenal di dunia
Sob, kalo kita ngeh
dan tahu, Rasulullah s.a.w. tentu lebih terkenal. Emang sih, kita tahu juga
soal Muahammad s.a.w. Setiap Muslim insya Allah tahu betul kalo Nabi Muhammad
s.a.w. adalah Rasulullah. Maklumlah, setiap bulan Rabiul Awwal di masyarakat kita suka diadain peringatan Maulid
Nabi. Yup, bulan Rabiul Awwal adalah
satu dari 12 bulan dalam kalender Qamariah
yang kayaknya kita apal banget.
Langganan:
Postingan (Atom)


